Movie Review: TURAH 

5.5/10

Turah (bukan Lambe Turah) adalah film tentang kehidupan warga di sebuah perkampungan. Bahasa dipakai dalam film ini adalah bahasa Jawa dengan dialek Tegal. Dinamika kehidupan masyarakat miskin di perkampungan di pinggir kali menjadi pusat utama film. Sifat iri dan dengki, perselingkuhan, fitnah, persaingan, pertengkaran rumah tangga, dan hal-hal lainnya yang biasa terjadi dalam masyarakat kampung digambarkan secara gamblang dan apa-adanya dalam Turah.

Setelah SITI dan ZIARAH, Turah dihadirkan dalam rangka meramaikan sinema Indonesia yang memiliki ciri khas lokal. Masalahnya, level Turah jauh di bawah ZIARAH, apalagi SITI.

Dengan berjalannya cerita Turah, saya duduk di kursi bioskop sambil mikir-mikir, apa sih yang kurang dari film Turah? Koq ceritanya seperti kurang sedap. 

Mendekati akhir film, saya baru sadar. Dengan tujan untuk memberikan sebuah gambaran otentik mengenai kehidupan masyarakat kampung, sineas menampilkan gambar-gambar, dialog dan cerita yang sangat apa-adanya. Bahkan, saking apa-adanya, Turah sama sekali tidak membekas di hati saya. Tidak seperti SITI dan ZIARAH yang sampai sekarang masih saya ingat betul karena saking briliannya kedua film itu. Menonton Turah, ya seperti menonton masyarakat sekitar kita saja, kita lihat sebentar sambil lalu, kemudian ya kita lupakan. Ya sudah begitu saja.

Ada sih kejujuran dalam Turah, but we don’t really care about those people in TURAH. Sama sekali tidak menggugah rasa.

Memang iya sih, sebuah film yang jujur harus menggambarkan situasi yang mendekati kenyataan. Tapi film harus memberikan sesuatu yang lebih agar audience peduli pada kontinuitas cerita dan tokoh-tokoh di dalamnya. 

Sedikit dramatisasi yang tidak berlebihan, musik yang muncul di adegan-adegan yang tepat, dialog yang penuh makna tapi tidak menggurui, adalah sebagian dari sedikit resep untuk sebuah film yang baik. It’s called cinematic. SITI dan ZIARAH punya semua resep itu, tapi Turah tidak.

Overall, Turah menambah perbendaharaan baru akan sebuah dinamika kehidupan di dalam masyarakat lokal Indonesia. Ceritanya cukup nyata, bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya di masyarakat kampung, tapi bisa terjadi juga di masyarakat manapun (kaya miskin tua muda). Sayangnya Turah tidak meninggalkan kesan apapun di hati penikmat sinema.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s