Movie Review: Dunkirk

9/10

Dunkirk adalah kisah heroik tentang penyelamatan sekitar 400ribu prajurit Inggris yang terkonsentrasi di kawasan pantai Dunkirk. Berlatar belakang setting perang dunia kedua, film diceritakan dalam tiga sequence secara tumpang tindih, yaitu dari sisi tiga orang prajurit yang mencari tumpangan kapal untuk menyelamatkan diri, dua orang penembak jitu di udara yang mencoba melindungi kapal serta seluruh prajurit yang berada di atasnya, dan seorang lelaki British paruh baya yang berlayar menuju Dunkirk untuk menyelamatkan prajurit yang tersisa disana. Mencekamnya suasana Dunkirk pernah digambarkan dalam film berkualitas, Atonement, sepuluh tahun yang lalu. Namun Dunkirk ala Nolan sangat berbeda.

Jika anda ingin menonton film perang yang sangat tegang hingga tanpa sadar anda berpegangan tangan pada kursi bioskop seolah sedang menonton film horor, maka tontonlah Dunkirk. Kali ini Christopher Nolan menghasilkan sebuah mahakarya yang melebihi ekspektasi semua orang. Penggemar Nolan pasti masih teringat betapa terperangahnya mereka dibuat oleh Nolan ketika menelurkan Inception. Lalu lumayan kecewa dengan Interstellar. Dengan Dunkirk, Nolan membuat semua orang puas. Pecinta film seni dan pecinta film mainstream kali ini boleh bersalaman damai.

Dunkirk merupakan gabungan antara seni sinema yang nyaris sempurna dengan ekspektasi sebuah film mainstream. Segala elemen dalam film ini bekerja maksimal untuk menciptakan kepuasan sinematik yang tiada tara. Visual yang indah namun dapat berubah menjadi mencekam sesuai dengan ritme cerita (walau harus saya akui, Dunkirk ala Nolan tak sedramatis penggambaran Dunkirk ala Joe Wright dalam Atonement), ceritanya nggak njelimet seperti film-film Nolan lainnya (even Batman sekalipun masih lumayan njelimet ceritanya), kisah patriotik namun sangat manusiawi (tidak melulu heroik, banyak momen-momen yang menggambarkan sifat abu-abu seorang insan manusia), dan tentu saja, musik karya Hans Zimmer yang epik (saya masih merinding jika terngiang suara musiknya yang mencekam). Kesemua elemen tadi sangat intens ditampilkan hingga saya sendiri nyaris menahan nafas sepanjang film. 

All in all, Dunkirk adalah sebuah film seni yang ngeblend dengan elemen mainstream. Film ini sempurna bagi saya, hingga saya menarik kesimpulan bahwa Stanley Kubrick bukan lagi tak tergantikan. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s