Movie Review: Baywatch

Baywatch 5/10

Ada alasan kuat mengapa Baywatch di tahun 90-an hanya menjadi serial tv alih-alih film layar lebar. Karena cerita ala-ala penjaga pantai sangat dangkal dan sulit untuk digali kedalaman materi ceritanya. Cerita hanya bekisar tentang penyelamatan orang-orang di pinggir pantai atau tentang pembongkaran tindak kriminal yang hanya bisa terjadi di seputaran pantai. Jelas sekali kedalaman cerita bukanlah jualan utama dari film seri Baywatch. Beautiful people in shorts and bathing suits are their priorities, ditambah dengan sedikit komedi lah. 

Makanya ketika The Rock berambisi untuk meremake, ia gagal total karena tidak menyadari apa esensi utama dari film seri Baywatch yang membuatnya memiliki fans berat dan bisa bertahan bertahun-tahun di televisi. The Rock terlihat berusaha kuat untuk membuat Baywatch versi remake bisa diterima oleh kalangan manapun (alias tidak dianggap hanya menjual tubuh setengah telanjang bintang filmnya) dengan cara memasukkan semua unsur cerita yang bisa dimasukkan ke dalam film jenis ini. Hasilnya, medioker dan serba nanggung. 

Crime storynya tidak pantas untuk diangkat ke layar lebar (bahkan banyak crime tv series yang ceritanya jauh – jauh – dan jauh lebih baik daripada film ini), unsur komedinya sangat aneh dan dipaksakan, adegan actionnya sangat-sangat nanggung (di edit sana-sini hanya untuk menunjukkan bagian yang mereka pikir keren saja), pendalaman karakter pada dua tokoh utama – The Rock dan Zach Efron – sangat generik dan membuat tokoh-tokoh lain terkesan tidak penting dan terpinggirkan (padahal seharusnya tokoh-tokoh wanitanya lah yang menjadi fokus utama dalam film ini, alih-alih mereka hanya menjadi pelengkap penderita saja, seandainya eksistensi mereka ditiadakan pun, ceritanya akan tetap berjalan). Dan yang paling membuat saya muak adalah slow motion tanpa henti sepanjang film. 

Bagi yang berharap menonton cewek-cewek seksi dalam balutan pakaian renang, anda akan mendapatkannya walau hanya muncul sebentar di beberapa adegan. 

In conclusion, film Baywatch ini gagal total. 

Sesungguhnya, hanya ada dua pilihan bagi The Rock dalam melakukan adaptasi terhadap film seri Baywatch. Yang pertama adalah mengembalikan film ini sesuai dengan fitrahnya, yaitu hanya menjual keseksian pemain filmnya (sesuai dengan ekspektasi fans film serinya dan sebagian besar manusia di permukaan bumi ini) atau menjadikan film ini sebagai pure crime story. Walaupun tentunya, pilihan manapun akan tetap menjadikan Baywatch tidak lebih dari sebuah film pop corn, tapi paling tidak bisa menghibur penonton tanpa harus mengernyitkan alis. Namun The Rock mencoba untuk bermain di tengah-tengah antara crime story dan sexy movie yang malah membuat film ini karam ke dasar laut yang paling dalam.

Advertisements

One thought on “Movie Review: Baywatch

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s