Movie Review: Bidadari Terakhir

Rating 4/10

838f7bd06d43c22eada9e0c22b32b466_2

Bidadari Terakhir bercerita tentang kehidupan seorang anak SMU yang berubah total sejak ia bertemu secara tak sengaja dengan seorang PSK. Rasya yang tadinya cupu dan kutu buku jatuh cinta pada Eva yang seorang PSK. Plot film berjalan di seputar jatuh bangun kehidupan percintaan mereka berdua.

At least, itulah kesimpulan yang saya ambil setelah menonton film ini. Karena sejujurnya saya bingung, sebenarnya tema apa yang hendak diangkat oleh filmmaker. Rasya digambarkan sebagai seorang anak SMU yang kikuk, lugu dan polos. Sedangkan Eva digambarkan sebagai PSK yang misterius (awalnya). Lalu apakah betul tema sentral film ini adalah kisah cinta berbeda dunia? Tapi koq nggak terasa gregetnya. Karena Whulandari Herman dan si pemeran Rasya itu sama sekali tak ada chemistry di sepanjang film. Mereka seperti berasal dari dua planet yang berbeda, yang terjebak dalam kisah cinta yang dipaksakan. Rasya dari Balikpapan, Eva dari planet Bekasi. Sama sekali tak ada kecocokan dari sisi manapun.

Lalu saya mulai berpikir, mungkin film ini mencoba untuk mengangkat perjalanan spiritual anak SMU, yaitu si Rasya. Penuh keingintahuan terhadap kehidupan yang sama sekali belum pernah ia ketahui, yaitu kehidupan seorang wanita malam. Dalam hal ini si Eva lah sebagai objek keingintahuannya.

Tapi koq ya,  tidak ada kedalaman emosi antara si Rasya dengan si Eva. Dialog percakapan antara Rasya dan Eva, saat mereka pertama kali bertemu, sama sekali tidak meninggalkan kesan yang mendalam. Mereka cuma ngobrol tentang hal-hal seperti ini: tipe-tipe laki-laki yang datang ke lokalisasi, dan sikap kikuk si Rasya. Selama berdialog, Eva bersikap as slutty as possible dan Rasya bersikap as innocent as possible. Dan durasi obrolan mereka terbilang singkat.

Lalu apa sebenarnya yang membuat Rasya tiba-tiba merasa tertohok dan terus kembali ke lokalisasi hanya untuk bertemu dan mengobrol dengan Eva? Yang pasti bukan karena obrolan mereka yang nggak berbobot itu. Oh, ‘mungkin’ karena sikap misterius si Eva.

Whulandari Herman sangat pas berperan sebagai Eva sang PSK. Tubuhnya aduhai, gerakan bibirnya merah menggoda, dan tatapan matanya membius. Tapi, hanya itu kesan yang saya (penonton) dapat dari Eva.  Tak ada kesan misterius yang membuat saya penasaran akan sosok Eva. Sehingga semisalnya saya adalah Rasya, saya nggak mau repot-repot kembali ke lokalisasi kalo hanya untuk mengobrol dengan Eva. Jadi kalo Rasya terus menerus kembali ke Lokalisasi untuk bertemu dengan Eva dan akhirnya pacaran dengannya, ya bisa dipastikan satu-satunya alasan adalah karena kecantikan dan keseksian Eva.

Rasya sendiri coba untuk digambarkan sebagai anak yang dikekang oleh keinginan ayahnya, yang mengatur hidup dan masa depannya. Sehingga Rasya begitu penasaran begitu ia bersenggolan dengan kehidupan orang lain yang sama sekali belum pernah ia kenal. Sayangnya pesan yang ini nggak nendang sama sekali. Sang ayah yang diperankan oleh Ikang Fawzy memberikan akting seorang ayah yang positif, bijaksana dan arif. Kalo ayahnya seperti ini, maka memang si Rasyanya aja yang durhaka.

Dan satu lagi, maksud judul filmnya Bidadari Terakhir itu siapa ya? Apa si Eva atau si Maria yang sungguh patut dikasihani karena dapat durasi tayang yang super minim padahal wajahnya dipasang di poster film?

Yang juga lumayan mengganggu adalah akting pemeran Rasya. Ia berusaha keras agar terlihat cupu dan polos sepanjang film. Yang keluar dari ekspresi wajahnya malah ia seperti melihat hantu setiap kali berinteraksi dengan pemeran lain di film ini.

Bidadari Terakhir tereksekusi menjadi drama yang membingungkan dan bikin penonton menguap sepanjang film. Hal positif yang patut diapresiasi adalah niat tulus filmmaker mengangkat kota Balikpapan sebagai setting. Sudah saatnya kota-kota lain di Indonesia mendapat filmnya masing-masing sebagai reminder bahwa Indonesia adalah negara yang sangat luas dan kaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s