Movie Review: FIFTY SHADES OF GREY

5/10

IMG_1708.JPG

Awalnya, Saya mengira EL James adalah seorang penulis berjenis kelamin laki-laki. Karena dalam pikiran konservatif saya, hanya laki-laki yang berani mengekspresikan hasrat seksualnya dalam sebuah novel. Ternyata saya salah, EL James adalah perempuan. Lebih tepatnya ibu-ibu, atau tante-tante.
Dan novel Fifty Shades Of Grey berisi kata-kata ungkapan hasrat seksual, yang sebenarnya diinginkan penulis, berasal dari seorang mahasiswi muda yang masih perawan. Tapi kenyataannya, setelah membaca beberapa halaman awal bukunya, ungkapan hasrat seksual yang ditulis di buku itu lebih mewakili hasrat seksual seorang tante-tante jelek yang kegatalan dan sudah lama tak berhubungan seks dengan suaminya. Saya hanya membaca beberapa halaman awal bukunya, lalu lose interest sama sekali, dan menjual bukunya dengan potongan setengah harga di tokobagus.

Surprisingly, Dakota Johnson mampu menghidupkan sosok wanita lugu itu di dalam filmnya, melalui karakter Anastasia Steele. Padahal di dalam buku, sosok wanita lugu itu tak tergambarkan. Tatapan mata lugunya, gerakan bibirnya, tone suaranya, body language-nya ketika berhubungan seks, menunjukkan Dakota mampu berakting sesuai dengan karakter gadis lugu dan perawan itu. Begitu juga dengan Jamie Dornan yang tampil misterius dan sangat desireable melalui karakter Christian Grey. Saya rasa pujian patut diberikan kepada dua aktor ini, karena selain itu, film ini tak memiliki sisi positif sama sekali. Hal ini dikarenakan seluruh aspek sinematik lainnya dibangun berdasarkan adaptasi dari novelnya yang hanya berisi fantasi seks mesum. Jadilah cerita hanya berkisar pada dua tokoh utama yang berkenalan, lalu ngobrol sebentar, kemudian langsung ngeseks, lalu ngobrol lagi sambil dinner, lalu sambung ngeseks, lalu naik pesawat, lalu ngeseks lagi, lalu ngobrol lagi… Yada yada yada.
Intinya film ini hanya bercerita tentang seks, orang gila seks, seks sadis, dan ngeseks. Capeee deh… (Dan aku sendiri cukup kaget dengan banyaknya kata seks yang harus aku tuliskan di review ini demi mewakili apa isi film itu sebenarnya).

Bagi saya, film ini hanya menjadi kendaraan bagi Dakota Johnson dan Jamie Dornan untuk naik kelas menjadi aktor kelas A di Hollywood. Dan mereka sukses dalam hal itu. Selain itu, film ini sama sekali gak worth watching. Ceritanya terasa gak berisi dan hanya memprioritaskan seks.

IMG_1707.JPG

PS: saya nonton film ini di bioskop di Manila pas sedang liburan disana minggu lalu. Gak ada pemotongan adegan, hanya blur pada sebagian kecil layar ketika adegan seks. Ketelanjangan Dakota dan Jamie gak disensor ya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s