Movie Review: Nada Untuk Asa

5/10

IMG_1618.JPG

Nada Untuk Asa bercerita tentang dua orang perempuan lintas generasi, Nada dan Asa. Nada adalah ibunya Asa. Mereka berdua memiliki virus HIV dalam tubuhnya, tertular dari sang suami/ayah, Bobby yang meninggal saat Asa masih bayi. Film ini terbagi dalam dua fase yang diceritakan secara tumpang tindih, antara Nada dan Asa. Nada bersetting tahun 90-an (?) dan Asa di masa kini.

Film ini bermaksud untuk menceritakan perempuan-perempuan yang memiliki virus HIV (ingat ya, AIDS adalah akibat dari HIV). Itu saya paham. Yang saya gak tahu adalah, kisah yang bagaimana yang ingin disampaikan oleh sineas. Apakah kisah yang mengundang simpati penonton pada penderita HIV? Sepertinya bukan. Karena koq saya gak merasa kasihan pada Nada maupun Asa. Justru saya kasihan pada Marsha Timothy yang harus memaksakan diri berakting mewek-mewek sampai mulutnya morat merot dan air matanya jarang menetes, lalu suara nangisnya jadi hu-hu-hu kayak suara nangis anak TK. Duh…
Lagipula si Nada ini wanita super koq. Sesedih apapun ia, rambutnya mesti tertata rapi dengan sempurna. Bahkan setelah ia lari marathon dari rumah sakit menuju rumah ayahnya begitu mengetahui hasil tes darahnya, rambutnya masih terlihat sempurna. Bertahan hidup setelah tahu dirinya mengindap HIV memang sangat penting. Tapi prioritas nomor satu: rambut harus tetap tersisir sempurna dalam segala situasi.
Asa? Kayaknya gak perlu dikasihani. Toh dia hidup normal koq layaknya gadis biasa.

Atau mungkin sineas bermaksud bercerita tentang kisah perjuangan para perempuan penderita HIV?
Sepertinya bukan. Karena fase Nada ceritanya di over dramatisir, dan cuma berfokus pada periode ia mengetahui menderita HIV.
Asa? Hidupnya normal-normal saja tuh. Gak ada yang luar biasa. Bahkan cenderung mirip cerita di film ABG unyu-unyu.

Sayang banget film ini tereksekusi dengan biasa, bahkan cenderung buruk. Problem utama terletak pada naskah yang lebaaaayyy. Padahal sangat banyak cerita yang bisa di explore dari kehidupan penderita HIV. Tapi penulis malah fokus pada drama-drama berlebihan yang jadi menutupi esensi sebenarnya dari film ini, terutama pada fase Nada. Kisah Nada terkesan dangkal karena hanya berfokus pada saat Nada mengetahui ia mendapat virus HIV dari suaminya.
Asa? Ya cuma kisah gadis normal saja. Bahkan si Asa koq kayak pura-pura menderita HIV ya? Blame it on Acha yang kayak gak akting sama sekali. Asa ya Acha, yang biasa muncul di infotainment sehari-hari.
Saking dramatisnya cerita si Nada, dan saking biasanya cerita Asa, core problemnya dapat dengan mudah diganti karena sama sekali gak mengganggu dramanya. Misalnya si Nada ternyata gak mendapat warisan HIV, tapi warisan hutang dari suaminya. Dan Asa sebenarnya adalah gadis dengan masalah ketombe akut.

Tapi kalo kamu suka dengan film yang banyak adegan sedih dan dialog yang mirip kalimat-kalimat galau di buku novel jaman sekarang, film ini cocok kamu tonton. Evidently, saya lihat sendiri ada cowok yang nangis ketika nonton film ini.

IMG_1619-1.JPG

Setelah nonton film ini, saya malah jadi kangen dengan film-film Indonesia era 80-90an kayak Taksi, Pacar Ketinggalan Kereta, atau Blok M yang terasa lebih nyata, drama gak berlebihan namun menggugah dan membuat saya teringat terus pada film-film itu. Bukan sekedar film biasa yang mudah terlupakan.

Advertisements

3 thoughts on “Movie Review: Nada Untuk Asa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s