Movie review: Hijab

4/10

IMG_1534.JPG

Sebelum memutuskan menonton film ini, saya berpikir panjang kira-kira semalaman gak bisa tidur. Kenapa? Bukan karena saya dag-dig-dug mau mengelihat Carissa Putri, tapi karena kepala saya dipenuhi suara neolib – neolib – neolib berulang-ulang. Tapi karena saya punya tanggung jawab moral (haha…) kepada kalian semua pembaca blog saya, yaitu berupa harus terus meng-update tulisan di blog ini, makanya saya teguhkan hati melangkahkan kaki untuk menonton film ini.

Jangan tertipu oleh judul film ini yang bagus. Hijab sama sekali tidak bercerita tentang hijab, atau perempuan berhijab. Film Hijab bercerita tentang sekelompok ibu-ibu yang ingin memiliki penghasilan sendiri melalui jualan Hijab. Awalnya online, lalu mereka membuka real life store. Kebetulan saja mereka mengenakan jilbab, dan berjualan jilbab.

Film ini tidak bercerita tentang perjalanan spiritual muslimah saat memutuskan untuk berhijab (walau kata-kata ini disebutkan di akhir film dengan kesan menggurui). Setengah awal film menceritakan bagaimana 4 perempuan itu memulai bisnis hijab dengan penggambaran yang super absurd. Tak ada kendala apapun, bisnis dimulai dengan mudah dan gampang, segampang menjentikkan jari.

Lalu setengah film akhir, bagaikan berada di film yang berbeda, menceritakan tentang problem rumah tangga tokoh-tokohnya dengan gaya pragmatis, dan tak ada hubungannya sama sekali dengan hijab.

Saya sebenarnya berusaha sekuat tenaga untuk tidak bias dalam menulis ini. Artinya saya hanya ingin menulis review dari sisi sinematik aja. Tapi untuk film ini sama sekali gak bisa saya lakukan. Why?

Pertama: karakter-karakter wanita yang ditampilkan di film ini sangat outdated dan sangat tidak realistis.
Apakah pernah ada muslimah masa kini yang berbohong atau menyembunyikan bisnisnya dari suaminya? Saya rasa gak ada. Kalau ada pun, pastilah wanita tersebut adalah wanita bodoh. Teman-teman wanita saya yang sudah menikah, banyak yang menjalankan bisnis ataupun bekerja kantoran. Mereka gak pernah menyembunyikan pekerjaan mereka dari suami mereka, dan mereka sukses memainkan peran sebagai ibu RT dan sebagai wanita pekerja karena suami mendukung mereka.
Justru saya melihat tokoh-tokoh dalam film hijab tak menunaikan kewajibannya sebagai ibu RT. mereka tak pernah digambarkan mengurus anak dan mengurus suami. Zaskia adya mecca cuma kelihatan duduk-duduk di depan tumpukan pakaian kotor dan mesin cuci sambil telpon-telponan. Lalu anaknya dibiarkan makan sendiri, main sendirian di sofa sementara dia ngobrol sama teman-temannya. Ini sangat tidak realistis. Justru ini yang harusnya menyebabkan keretakan rumah tangga. Bukan…

Kedua: Suami yang arogan. Suami-suami di film ini dikarakterisasi dengan sangat lemah. Sama sekali gak ada chemistry dengan istri mereka. Suami zaskia yang paling parah, dan paling bodoh. Masak bisa marah sama istrinya yang bekerja? Pernah nemu gak suami yang kayak gini? Seumur hidup belum pernah. Setahu saya, berdasarkan pengalaman teman-teman saya, seorang istri memutuskan berhenti kerja dan menjadi ibu RT full karena ingin mengurus anak. Bukan karena suami yang menggunakan dalil-dalil agama dengan cara yang konyol. Sayangnya, dalih mengurus anak tak pernah digubris dalam film ini, seolah hal itu sama sekali gak penting.

Pertanyaan saya yang paling utama: inti film ini sebenarnya apa sih? Yang pasti hijab hanya jadi cantolan untuk judul saja. Kalo dibilang inti film tentang problem rumah tangga istri-istri yang gak boleh bekerja karena suami ekstrimis, rasanya pun terlalu dangkal karena problematika yang ditampilkan tak realistis dan cenderung dibuat-buat. Lalu apa sebenarnya tujuan film ini dibuat? Supaya jadi media untuk menampilkan adegan-adegan dan dialog propaganda?

IMG_1535.JPG

Propaganda Islam Liberal? Bertebaran sepanjang film. Gak usahla saya beberkan satu persatu karena saya pun sekarang sedang berusaha menghapus memori film Hijab dari dalam otak saya. Okelah kalau filmmaker ybs ingin membuat film propaganda Islam Liberal, tapi buatlah secara cerdas, bukan dengan bodoh dan membodohi. Namun entah kenapa, filmmaker selalu gagal membuat film Islam Liberal yang cerdas. Yang ada selalu menjadi cibiran.

Advertisements

5 thoughts on “Movie review: Hijab

    1. Yup, setuju, memang ada lelaki seperti itu. Tapi yang digambarkan dalam film Hijab sikap tokoh-tokohnya sangat absurd, dan yang paling disorot tuh tokoh suaminya zaskia yang pake dalil abal-abal untuk mencegah istrinya bekerja. Trus suami-suami yang lain malah gak jelas sikapnya mengenai istrinya bekerja, malah istri-istrinya yang parno gak jelas untuk memulai bisnis mereka.

  1. haah gak jadi nonton ah… mending nonton assalamualaikum beijing kali yak? tp emang beneran sih, namanya juga Hanung, sutradara film Islam liberal. bikin film bagus klo duitnya gedhe, klo duitnya cuma se emprit, ya jadinya cuma jd film ecek-ecek. yg bagus itu, bisa bikin film bagus dgn biaya minim. Maless nonton hIJAB cuman jadi kendaraan mencari duit buat butiknya Zaskia ini. Ampun dah… kasihan juga dijahyellow.. cuman jadi bahan bulan-bulanan, gak inget apa ya tujuannya evil banget sama si dijahyeloow ini, udah tahu org gak jelas, jadi bahan bulan2an, eh disuruh main pelem, biar cariduit banyak dr hardikan org org ttg dyellow. Ini sih film JAHAT bukan HIJAB. Bagusan nonton DIBALIK 98!
    Dan beneran, hari pertama cuma dilihat 5500 orang doang, itu aja kru filmnya sama keluarganya. Dibalik98 ditonton 35ribu. Orang tahu niatnya bikin film apa sih,klo cuman mau ngejelek-jelekin orang jilbaban, ga direstui sama yang diatas! kasihan loe Nung Hanung.

    1. Nama hanung memang sudah identik dengan islam liberal. Cukup ironis padahal awalnya hanung menyutradarai film romantis brownis yg sama sekali gak berhubungan dengan islam liberal.
      Perubahan haluan ini dipertanyakan.
      Dijah yellow ada muncul di film ini walau perannya hanya sebagai bahan lelucon saja.

  2. filmnya katanya merugi tuh, rugi 5 M katanya.tapi itu duitnya Erik Tohir. Kok ga kapok ya si erik tohir nih buang duit buat Hanung, jg2 hombrengan nih cowok cowok wkwkwk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s