Movie Review: Erau Kota Raja

3/10

700

Erau adalah sebuah tradisi budaya Indonesia yang dilaksanakan setiap tahun dengan pusat kegiatan di kota TenggarongKutai KartanegaraKalimantan Timur. Erau berasal dari bahasa Kutaieroh yang artinya ramai, riuh, ribut, suasana yang penuh sukacita. Suasana yang ramai, riuh rendah suara tersebut dalam arti: banyaknya kegiatan sekelompok orang yang mempunyai hajat dan mengandung makna baik bersifat sakral, ritual, maupun hiburan.

(Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Erau

Bapak dan Ibu, Om dan Tante, Kakak dan Adik, Sodara-sodara pembaca, pasti kalian heran kenapa saya mengutip tulisan dari wikipedia, dan bukan memberikan tulisan saya sendiri?

Karena  itulah yang saya rasakan setelah menonton film Erau ini. Saya sama sekali gak mendapatkan apapun dari film ini, seperti informasi apa Erau itu sebenarnya (saya baru ngeh Erau adalah sebuah perayaan atau parade setelah membaca artikel di wiki yang saya kutip di atas), alur cerita yang masuk akal, bahkan cerita dengan standart minimal pun gak saya dapatkan melalui film ini.

Jadi daripada saya melibas film ini dengan gaya judes bak ibu tiri, mendingan saya kutip aja artikel di wiki sebagai info buat kalian semua. Film ini sebenarnya bertujuan baik, yaitu untuk mempromosikan budaya di Tenggarong, Kalimantan Timur (Yak, betul sodara-sodara, Tenggarong ada di Kalimantan Timur – Kalimantan Timur sama sekali gak disebut sekalipun di dalam film) tapi sayangnya gak satupun budaya Erau maupun Tenggarong diceritakan dengan baik, tuntas, dan jelas di dalam film. Dan jangan berharap banyak dengan cerita filmnya yang dimaksudkan untuk memberi nyawa pada film promosi budaya ini, karena standart minimal cerita baik pun sama sekali gak dimiliki oleh film ini.

Tapi jangan khawatir, kalian masih bisa terhibur koq selama menonton film Erau, karena ada beberapa laughable dialogue yang bikin aku terbahak-bahak saking bodohnya, seperti:

1. Nadine kepada Doni dan Dika Ada Band: “Kalian masih disini?” (padahal Doni dan Dika baru aja sampai di tempatnya Nadine).

2. Nadine sambil memfoto Orang Utan: “Jadi kepunahan mereka bisa diperhatikan.” (Kepunahan binatang langka koq diperhatikan sih buk? Masa’ mau ditonton aja? Ya dicegah dong.)

3. Denny kepada Jajang yang sedang sakit: “Ibu jangan terlalu capek” (Urrrmmm…. Bukannya ibunya sehari-hari hanya tinggal di rumah dan gak melakukan apa-apa selain menunggu anaknya pulang? Ternyata pekerjaan seperti itu bisa membuat orang sakit juga ya).

4. Nadine kepada Jajang yang sedang esmosi melihat Nadine di rumahnya: “Kenalkan, saya Kirana temannya Reza” (Hello, Nadine budeg ya, bukannya bu Jajang barusan bilang: ‘Kirana, sedang apa kamu disini?’)

5. Nadine berbicara di telepon kepada bosnya: “Besok saya kembali ke Jakarta” (Besoknya Nadine masih di Tenggarong, tepe-tepe ke Denny sampe bikin Alya cemburu mampus. Lusa, Nadine masih Tenggarong dan bikin ibu si Denny emosi tingkat dewa).

Hehehe… Lucu kan???

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s