Movie Review: Haji Backpacker

6/10

20140520_141952

Pada suatu hari, certain filmmakers berencana untuk membuat sebuah film, dan inilah iterinary mereka:

1. Lets make a movie based on bestselling book dengan judul yang catchy dan provocative = Haji Backpacker. Check.
2. Ambil kalimat-kalimat dialog yang bagus dan quoteable dari buku dan masukkan ke dalam film, sebanyak mungkin. The more is the merrier. Check.
3. Hire penata musik untuk mencipta musik film yang nonstop sepanjang durasi film, dengan melodi yang melengking menyayat-nyayat hati dan membuat kuping penonton berdarah-darah. Check.
4. Last but not least, ambil scene-scene panorama, scenery, dan city light dengan metode fast forward dan dari kejauhan di atas bukit tanpa menyadari adegan-adegan seperti itu sudah jamak ditampilkan di acara jalan-jalan bersama artis di televisi swasta. Check.

And the result is …. TOO MUCH.

Quite a change from last night with Tabula Rasa yang mengusung pakem less is more, Haji Backpacker justru sebaliknya, menganut pakem too much is nothing.
(Okay, now you will be questioning, how come i am able to watch movies in cinema 2 nights in a row?
Well, i’m single. What can you expect me speding my night except by going to mall and watch movies???)

Haji Backpacker menggunakan semua jurus dan resep film bagus dan berkualitas yang pernah ditulis di setiap good film textbook, namun sayangnya, mereka tak menyambung semua resep itu dengan feeling.
Jadilah si filmmaker tadi berusaha untuk telling a story, tapi karena lack of feeling, film ini jadi kehilangan fokus.
Sebentar-sebentar muncul adegan panorama dan citylight, lalu kemudian muncul adegan mada berdialog dengan pemain lain menggunakan kata-kata filosofis, lalu muncul adegan mada sedang bermimpi, lalu muncul adegan si mada sedang pasang tampang kucel. Semua adegan berjalan dan ditampilkan dengan pace yang cepat tanpa ada substansi yang menggugah rasa selain untuk kontinuiti cerita. Dan yang lebih parah, musik scoring nya yang gak berhenti dari awal sampe akhir film sangat sangat sangat mengganggu kuping penonton, dan merusak mood cerita.

Seandainya saja filmmaker memperlambat pace cerita, membiarkan cerita mengalir dari hal-hal kecil yang ditemui dan dilakukan mada selama backpacking, namun menambah kedewasaan mada. Gak perlu lah mada ditampilkan berhalusinasi bertemu dengan si … (No spoiler) hanya untuk membuat klimaks cerita.

Sungguh disayangkan interpretasi film seperti ini, whilst road movie seperti ini sangat potensial untuk menjadi film berkualitas dan festival darling, alih-alih hanya menjadi another indonesian cash in – pop – eyecandy movie.

d7a332411e14769f300879cf8b1d4da6_XL

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s