Movie Review: SUPERNOVA

Rating 5/10

Sebelum baca review ini, tolong dipahami bahwa setiap review yang saya tulis sifatnya subjective, dan berdasarkan apa yang saya rasakan ketika menonton film tersebut. Jadi rasanya bisa beda2 dengan orang lain. Tapi yakinilah, saya mencoba untuk se-mainstream mungkin. Dan saya pede nulis review film karena literally saya sudah menonton segala genre film, dan jumlah film yg saya tonton literally udah ratusan atau bahkan mungkin ribuan.
Dan bagi saya, bisa berbeda hasil kepuasan yang didapat diantara menonton film yang ceritanya sama dengan sebuah buku dimana film tersebut diadaptasi.
Buku Supernova setahu saya adalah salah satu karya paling penting dalam dunia sastra modern indonesia. Buku ini sukses menggabungkan roman dengan science dalam bahasa-bahasa yang indah, ya walau saya belum baca bukunya, tapi saya sudah sering mendengar komentar seperti itu tentang bukunya. Saya meyakini, buku Supernova adalah salah satu buku yang paling sulit untuk diadaptasi ke dalam bentuk sinema karena keindahan bahasanya, keruwetan ceritanya dan betapa kompleksnya sifat karakter-karakter dalam buku itu, yang hanya bisa dihantarkan ke penikmatnya melalui bahasa linguis.
Ketika penikmat film menonton sebuah film, mereka berharap disuguhi pengalaman sinematik yang menghibur dan menggugah rasa. Alih-alih, Rizal Mantovani mencecoki penikmat film dengan linguist-lunguist yang divisualisasikan dengan tegopoh-gopoh membuat penonton bingung bagaimana harus mengapresiasi film Supernova ini. Dan jeleknya membuat penonton film tadi  mempertanyakan kredibilitas novel Supernova itu sendiri.
Masak iya sepanjang film, dan terutama mendekati ending, seluruh dialognya adalah kata-kata puitis yang ruwet dan susah dipahami, seperti dicomot bulat-bulat langsung dari bukunya. Dan gak cukup hanya diucapkan, dialog-dialognya juga mesti ditampilkan dalam bentuk screen capture dari komputer di layar bioskop.
Se-unreal apa sih sebuah dunia sehingga sebagian orang bisa berdialog wajar sebagaimana kita sehari-hari dan sebagian lain berdialog serba puitis dan membingungkan dalam waktu-waktu tertentu di hari-hari mereka?
Kami ke bioskop ingin menonton film, bukan menonton kalimat-kalimat dari dalam buku diucapkan dalam film. Atau kasarnya, kami ke bioskop untuk nonton film Supernova, bukan untuk baca buku atau untuk tahu apa isi cerita buku Supernova.
Lalu saya gak pernah nyangka ada film dengan miscast yang paling mengganggu seperti dalam film Supernova. Herjunot yg punya ekspresi wajah default di setiap filmnya kurang kharismatik sebagai ksatria. Justru Raline Shah yg menurut saya lebih tepat menjadi ksatria dengan aura putri indonesianya yang gak pernah lenyap dalam setiap jam tayangnya di televisi baik di acara infotainment sekalipun. Lalu pemeran bintang jatuh yang namanya entah siapa itu yang dapat dengan mudah digantikan oleh robot manequin. Perannya sebagai bintang jatuh patut dipertanyakan, karena gak jelas kenapa ia mesti mempunyai pekerjaan utama sebagai high class hooker dan di saat yang bersamaan juga memiliki kehidupan ganda sebagai bintang jatuh. tak ada koneksi yang dalam diantara dua kehidupannya itu.
Jujur aja, film ini sama sekali tidak membuat saya excited maupun puas dan tergugah, yang ada malah saya jadi bingung gak mengerti, yang saya yakin berbeda jauh dengan penikmat novelnya yang mengapresiasi luar biasa novelnya, padahal kedua medium ini, film dan bukunya, mempunyai alur cerita dan penokohan yang sama.
Mungkin Supernova bukan film yang super buruk, tapi saya yakin film ini merupakan film adaptasi yang gagal. Sorry guys.

IMG_1309-1.JPG

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s