Coming Home

Yap, ini waktunya, telah datang. Pulang ke rumah. Mengapa setiap orang selalu mengatakan ‘pulang ke rumah’, bukan hanya ‘pulang’ saja.  Bukankah ketika kita berkata pulang, itu berarti kita akan pergi kembali ke tempat kita berasal, tempat kita berawal, tempat kita dilahirkan, tempat orang tua kita berada, tempat keluarga kita berada, dan rumah adalah tempat kita semua berasal. Rumah adalah tempat kita semua berawal. Rumah adalah ground zero kita semua. Ketika aku memikirkan rumah, aku selalu membayangkan rumah tempat aku pulang, aku tidur, aku bercengekrama dengan keluarga, rumah yang nyaman, rumah dimana aku merasa aman di dalam nya. So much for the reality.

Paling tidak, itulah yang aku bayangkan, yang aku harapkan ketika aku melangkahkan kakiku kini di landasan pesawat ini. Itulah rumah, tempat yang aku tuju sekarang dalam perjalanan pulang ini. Gak penting apabila rumah itu gak sesuai dengan kenyataan, toh aku seringnya hidup di dalam angan-angan dan mimpiku tentang kehidupan yang idealis dan nyaman, di dalam rumah yang entah di mana aku tidak tahu.

Aku lihat, teman-teman seangkatanku semuanya sibuk memaparkan ekspresi kegembiraan yang tak tertahankan. Wajar, sudah sekian tahun kami berada dalam tugas ini, jauh dari rumah, bahkan ada beberapa teman yang sama sekali belum pernah pulang ke rumah sejak pertama kali di tempatkan di sini. Aku sendiri sudah pernah pulang ke rumah dalam libur panjang yang harus kami ambil, mau tak mau. Tapi toh, liburan di rumah bagiku sama saja seperti ketika aku menghabiskan hari liburku di barak, tidur sepanjang hari, bangun untuk nonton tv dan makan, gak ada yang peduli dan merecoki kegiatan liburku itu. Itulah yang ada dalam benakku saat ini, berada di rumah nantinya bagiku sama saja dengan berada di dalam barak, aku tak pernah merasa di rumah bahkan ketika aku berada di dalam rumah.

Terpikirkanku suasana di rumah nantinya yang akan kutemui. Ibu yang menyambutku dengan sukacita, dan adik perempuanku yang kuliahnya masih kubiayai, cuek tak cuek dengan kedatanganku. Ibu pasti akan selalu menanyakan apa aku sudah makan, jika belum makan maka makanlah dulu. Namun aku yakin itu hanya basa-basi saja, atau entahlah apa ia memang betul peduli, karena yang kutahu ia tak pernah menyiapkan makanan bagiku untuk kumakan. Selalu aku sendiri yang membeli nasi bungkus dalam perjalanan ke rumah.

Lalu kemudian aku akan langsung ngeloyor masuk ke dalam kamar, menyalakan televisi sebentar, kemudian pergi mandi dan sholat, lalu melanjutkan nonton tv sambil memakan makanan yang aku bawa. Inikah rumah?

Dulu, perasaan pulang ke rumah itu begitu melekat dalam benakku. Wajarlah, saat itu aku masih berumur lima tahunan. Sepulang bermain, pulang ke rumah. Itu sebelum hanya tinggal kami bertiga saja, ibu berubah menjadi monster yang tak kukenal. Terpicu oleh kematian bapak yang mendadak, ibu menjadi stress karena tidak tahu bagaimana harus mengurus kami berdua. Seumur hidup ia tak pernah diberi tanggung jawab begitu besar untuk menafkahi kami. Saat itu, rumahku mulai terasa bukan sebagai rumahku lagi. Waktu terus berjalan, rumah malah terasa bagaikan sekolahku tempat di mana aku mendapat perlakukan semena-mena dan tak ada belas kasihan.

Aku selalu berpikir untuk mengharapkan diriku menjadi bahagia terlepas dari segala jalur kehidupan masa kecil dan remajaku. Aku selalu mengharapkan diriku pulang kembali kepada diriku ketika berumur lima tahun itu. Karena di dalam diriku yang terdalam, aku yakin diriku adalah masih anak berumur lima tahun itu. Yah, harapanku harus bergulat dengan kebanyakan luka yang menganga dalam hidupku. Bagaimana aku bisa berharap untuk kembali menjadi yang dulu, kembali masuk ke dalam rumahku, jika sepanjang perjalanan pulang ini aku terus menerus menjalani kehidupan yang aku kira tepat, yang aku kira yang aku inginkan, sesuai dengan diriku ketika aku pulang nanti…

Teman-teman seangkatan selalu menyuruhku untuk segera menikah saja. Apalagi yang aku tunggu, umur sudah cukup, punya penghasilan tetap, dan yang paling penting bisa mengusir kesepianku. Benar, apalagi yang aku tunggu, seharusnya itulah yang aku pikirkan dulu ketika aku memulai hubungan dengan seorang wanita yang kutemui di sini di tempat tugasku. Aku selalu membayangkan diriku berada di dalam suatu hubungan yang romantis dan sempurna, karena itulah diriku yang sejak dulu diracuni oleh novel dan bacaan tentang percintaan yang sentimentil, yang bodohnya ingin kuaplikasikan ke dalam kehidupanku. Aku menginginkan kehidupan yang penuh dengan semangat yang menggugah nurani perasaan cintaku setiap pagi, yang aku selalu akan merindukannya bahkan di dalam mimpiku sekalipun. Ya, aku mendapatkan semua itu dengan Inun, namun tidak untuk selamanya. Ketika hubungan kami akhirnya berakhir, entah apakah aku harus merasa bersyukur atau marah. Marah… biasa… namun bersyukur, herannya rasa itu muncul dalam benakku yang terdalam, entah bagaimana, namun ia muncul begitu saja… Aku sadari Inun bukan wanita yang sempurna bagiku, walau ia bisa memberikan segala romantisme yang kuinginkan ada dalam hidupku, namun ia adalah wanita yang selalu meminta lebih, lebih dan lebih…  Dan bagaimana ia selalu membagi waktu dan cintanya kepada suaminya, aku tak mengerti, tapi ia selalu menyediakan cinta yang lebih kepadaku… Bagaimana ia dapat melakukannya… Aku tak dapat menduga nya… Namun, ketika awalnya aku menikmatinya, semakin lama aku semakin penasaran bagaimana caranya ia melakukan semua itu… Rasa penasaranku terbayar dengan mahal… Seiring berjalan waktu, aku tak mampu lagi untuk tetap menjadi bagian yang terpisah dari kehidupan nyatanya. Aku ingin menjadi bagian yang nyata dari hidupnya, ia sudah sangat nyata bagiku, aku ingin nyata juga baginya… Ia tak mampu melakukannya.

Aku menaiki tangga pesawat dengan perasaan kosong. Aku duduk di bangku deretan paling belakang, sendirian. Teman-teman yang sudah mengenal sifatku, mahfum dengan kediamanku. Mereka membiarkanku sendirian, mereka pun sibuk bercengkerama, lainnya sibuk ber-sms dan berbicara di telepon sebelum disuruh mematikan telepon mereka oleh pramugari. Segala pemikiranku tentang kehidupanku di sini yang terus membayangiku rasanya sudah kutinggalkan tadi di bawah tangga pesawat. Namun aku masih melihatnya di sana, bayangan itu, berdiri tegak di gang pesawat. Aku hanya tersenyum menatapnya, ya, ia tak akan pernah meninggalkanku selamanya, sekeras apapun upayaku untuk melepaskan diriku darinya. Sama dengan bayangan-bayangan dari kehidupanku sebelum ini, mereka semua juga berdiri disana, bergabung dengan satu sama lain. Bayangan dari kehidupan masa kecilku yang tak bahagia, masa remajaku yang penuh dengan tekanan. Bayangan dari ketidakbahagiaanku hidup bersama keluargaku, ketidakbahagiaanku atas pekerjaan yang kujalani kini, ketidakbahagiaanku atas kehidupanku seluruhnya. Mereka semua mengelilingiku kini, membuat sesak dadaku.

Mungkin, this is the last straw. Mungkin, itulah yang menyebabkan aku berlari keluar dari bandara setibanya aku di kota tujuan. Aku berlari keluar, meninggalkan teman-teman yang mengucapkan selamat tinggal padaku, meninggalkan seluruh tas-tas dan bagasi yang kubawa dalam perjalanan. Hanya dengan bekal baju di badan dan dompet yang berisi uang ala kadarnya, dan tentu saja kartu atm, aku berlari meninggalkan semuanya. Selari ketika aku berlari, aku menolah ke belakang, aku lihat teman-teman melambaikan tangan kepadaku, aku lihat mereka berdiri di belakang teman-temanku, ikut melambaikan tangan juga kepadaku. Hahaha… Aku tersenyum menyaksikannya, aku pikir selama ini mereka telah jahat kepadaku, mereka sengaja membuatku tak bahagia… Namun aku salah, mereka ternyata peduli padaku, dan ikut mendoakan kebahagiaanku…Lambaian tangan mereka adalah pertanda bahwa mereka telah selesai berurusan denganku, dan kini aku harus memulai sendirian, kehidupan yang akan kutorehkan di atas kertas yang masih putih. Aku memang tak akan bisa melupakan kehidupanku sebelumnya, namun mereka tak akan lagi menghalangi jalanku sebagaimana sebelumnya. Aku adalah bebas.

Advertisements

4 thoughts on “Coming Home

  1. cerpen ini aku post di blog jejakubikel. aku pikir bagus juga ya kalo di post di blog ku sendiri. enjoy ya temen2. ditunggu komen-komennya dibawah ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s